:Masa muda masa yang berapi-api

:Lagi kena sindrom kepala 2

: Belum ada progress... T.T #99 target


· Komentari · Suka · Beri makan · Tanya-Tanya Quiz

Maaf tidak untuk dijual

4 Agustus 2014

Pertama kali datang ke Solo, saya Gregetan dengan kos ini

Assalamualaikum,
Hello world! 

Bagaimana kabar pembaca semua? Mudah-mudahan sehat selalu serta dalam lindungan Allah SWT.

Jam dinding di rumah saya telah menunjukkan angka 1, pagi, ditemani lagu dari Slipknot yang baru saja diluncurkan.... Lagi gak bisa tidur, soalnya tadi udah tidur 3 jam wkwkwkw... Hari ini saya ingin berbagi sebuah pemikiran yang kadang-kadang bikin saya ganjel kayak bisul. Sering saya mendengar dan melihat keluhan yang ada di masyarakat atau kehidupan kita cuma di selesaikan secara superfisial saja dan gak sampai ke akar permasalahan.

Kembali saya teringat ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Solo. Saya mulai pindah kos dari Surabaya dan memboyong semua barang ke kamar baru. Waktu itu kamar kosku lembab dan sempit, belum pindah ke kamar yang gedhe kayak sekarang. (Muka senang)

Ada satu hal yang menggelitik hati saya. Yaitu kebiasaan penghuni kos disini ketika membuang sampah. Bisa dibilang waktu itu masih jahiliyah dalam hal kebersihan. Kenapa? Karena waktu itu saya heran ketika ada mas senior yang melemparkan sampah kamarnya di salah satu sudut ruang TV di lantai 2. Waktu itu ceritanya masih jadi anak baru, jadi saya gak mau banyak omong, 

cuma tanya -"lho mas kok sampahnya dibuang disitu?"-
"Ini kan tempat sampah"
Lalu aku coba mendekat, setelah aku korek-korek sedikit ternyata ada tempat sampah kecil yang udah ketutupan gunungan sampah...
"Eh iya bener? Tapi kan ntu sampahnya kecil dan udah penuh?" saya gak berani meneruskan...
"Iya anak disini udah SERING Gitu"
Haaahh???

Alhasil sampah di ruang TV pun menggunung, pojok ruangan deket tangga itu berubah menjadi gunungan sampah. Meskipun dengan dalih ada tempat sampah kecil disana. Apa yo gak nganggu kesehatan? *pikirku Kalo ada yang sakit -sempat ada yang sakit- cuma diobati tanpa dirubah gaya hidup kayak gini nie.
Kadang keranjang sampah yang kecil itu ditumpuk, dan kalo sudah penuh gak ada yang membuang di bawah, akhirnya menggunung sampai beminggu-minggu. Ini benar-benar kehidupan yang aneh... tidak ada ketua RT di kosan ini ataupun semacam kepala geng. Seolah-olah dunia di luar kamarnya bukan urusan dia. Dan kalo ada apa-apa selalu orang yang disalahkan pertama kali adalah orang disekitarnya. (Facepalm).
Tulisan semisal "Kalo sudah penuh, sampah tolong dibuang di bawah" sampai yang bernada sarkasme seperti "Hanya orang bodoh yang membuang sampah di tempat sampah yang sudah penuh" sudah tidak ampuh lagi kalo pola pikirnya seperti ini. Sudah berulang kali diingatkan tapi sepertinya bukan itu penyelesaian yang dibutuhkan.
#Ini pas zaman Jahiliyah

Sebelumnya, saya kuliah di jurusan Fisika di Surabaya dan waktu itu saya tinggal di asrama. Sekamar isinya 1-4 orang. Satu blok asrama bisa mencapai 40 orang dan semuanya dipimpin oleh 1 orang yang kita sebut PAK RT dan hanya di lantai blok kita yang punya Pak RT. Rasanya kesadaran bermasyarakat lebih terasa ketika saya di Surabaya daripada di Solo. Pak RT (Pemimpin) punya tugas dan peranan penting untuk membawa dan mengarahkan komunitasnya. Setiap ada gesekan kita bicaran dan rapatkan, lebih dibawa ke suasana yang humor pada intinya. Pada waktu di asrama kami selalu membagi jadwal piket untuk menjaga kebersihan walaupun ujungnya banyak pelanggaran tapi ada aturan yang berlaku di sana. Jadi baru terasa bahwa betapa pentingnya peran seorang leader dalam menciptakan keharmonisan dan perubahan.

Lalu kembali di suasan kos saya yang di Solo, saya hanya bisa mengamati perilaku anak-anak kos. Bodohnya saya kok bisa bertahan selama 1 tahun di sana dengan keadaan seperti itu. Walaupun setiap kali saya berusaha menyinyir mereka (tapi kok gak tega) tentang masalah kebersihan ruang TV ini. Sempat saya kumpulkan semua dan saya tanyakan, "Apa kalian merasa nyaman dengan kondisi ruang TV dengan tumpukkan sampah dipojokkan seperti ini?" - Semuanya jawabannya sama - retoris.
"Apa kalian gak sayang dengan kesehatan kalian?"
Saya lihat kamar mereka semuanya bersih - tapi mereka melupakan ruangan yang sering dipakai bersama. Meskipun seringkali kita nonton bola bareng disana.

Awal tahun kedua, tanpa pikir panjang saya beli ember besar, paling gedhe sesuai budget yang saya punya waktu itu, dengan penutupnya, saya taruh di dekat dinding. Pojokkan yang biasa dibuat tempat buang sampah sembarang saya blok menjadi tempat sepatu umum. 

Hasilnya... Tidak mengecewakan...

Hal ini berlaku untuk kehidupan yang lebih luas di masyarakat. Banyak orang yang berobat karena sakit dan akan terjadi seperti itu jika kualitas ekonomi dan sanitasinya tidak diperbaiki. Bakti sosial yang sifatnya memberikan tindakan segera itu perlu, namun pendidikan, ekonomi dan peningkatan infrastruktur primer jangka panjang itu lebih penting. Karena mencegah dan meningkatkan kualitas hidup lebih baik daripada mengobati penyakit. Ini merupakan bahan evaluasi terutama untuk saya pribadi, semoga kita bisa memetik hikmahnya. Aamiin.

Sebelumnya mf kalo tulisan ini terlalu random.
Thx, Wassalamualaikum.
Read More..

29 Juli 2014

Tasawuf Modern, Ujian Ilmu Kedokteran dan Bonus Jin

Assalamualaikum,
Hello World!
Selamat Idul Fitri,

Senang rasanya bisa menyempatkan diri nulis di blog kembali.
Kadangkala alasan orang ga bisa nulis di blog ada dua, karena terlalu banyak cerita hari itu atau koneksi internet lagi mati. Alhasil segala macam bentuk ketikan biasanya hanya berujung di netbook saja.

Seperti di postingan sebelumnya, aktivitas selama pulang kampung lebih banyak berhubungan dengan kehidupan yang agak "nyata". Seminggu dua minggu udah gak kerasa gak megang gadget, hp atau komputer. Bisa dibilang lebih membumi dari biasanya.

Senang sekali rasanya bertemu dengan keluarga di rumah, asyik, bersyukur sekali bisa melihat Mama dan Bapak di rumah dalam keadaan sehat. Aneh ya? Biasanya manggil ortu kan satu set, kalo ngga Mama Papa, Ibu Bapak, Ebez Memez (versi gaul) tapi ortu saya unik kisahnya dan ceritanya bakalan panjang. Lanjut, Mama saya adalah seorang praktisi kesehatan sedangkan bapak... jujur bapak saya seorang yang... saya lebih memilih menuliskan PNS di kolom pekerjaan, daripada praktisi spritual.

Alhamdulillah, karena saya memeluk Islam, siang ini saya membaca sebuah buku serial Ilmu Tasawuf Modern karangan H. Mustofa. Seorang lulusan teknik nuklir di UGM yang sudah banyak menelurkan buah pemikirannya. Apa itu Tasawuf? Ini sebagian kutipannya dari wikipedia...

"Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme (bahasa Arabتصوف , ) adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi."


Jujur saja, saya merasa sedikit warming up selama liburan dengan buku-buku seperti ini. Ciri khas dari bukunya sangat kental dengan penjabaran Fisika Teori Modern yang sempat saya rasakan saat di jurusan Fisika Unair. Alhamdulillah saya tidak terlalu sulit mendalami bahasa beliau karena saya merasakan apa yang beliau dapat ketika berada di bangku kuliah. Pembahasannya lebih mirip kuliah - sangat memuaskan - kemudian di-twist dengan surah yang ada di Al-Qur'an. Satu persatu fakta ilmiah yang kian hari ditemukan sejalan dengan penjelasan yang ada di Al-Qur'an yang diturunkan jauh sebelumnya. Pesan saya, membacalah dengan terbuka, tapi jangan lupa untuk "dicerna" karena untuk itu Tuhan menciptakan manusia dengan akal. Di buku ini saya tidak semata-mata mencari pembenaran, tapi kebenaran selalu ditunjukkan dengan tanda-tanda-Nya bagi orang memperhatikan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketika Ilmu Kedokteran Bangku Kuliah Berada di Lapangan

Malam hari, ada seorang kakek-kakek datang dengan keluhan sakit saat kencing. Turun dari sepeda motor masih butuh di bantu berjalan.


Oh ya, kebiasaan saya kalo di rumah pas lagi ga ada Mama, saya kadang-kadang mencuri "pasien" (pasien selalu saya tangani lebih dulu). Biasanya dibantu dengan mas yang kebetulan seorang perawat. Biasanya saya "curi-curi" anamnesis dan selebihnya saya serahkan ke mas. Kali ini kita dapati pasien dengan (Infeksi Saluran Kemih) ISK akibat pemasangan kateter. Kakek tersebut juga tidak membawa obat sama sekali setelah di pasang kateter. Namun saat memilih terapi terbaiknya, saya merasa seperti orang bodoh. Sejenak saya berusaha mengingat kembali pelajaran di bangku kuliah kedokteran. Namun saya akui saya masih merasa sangat oon mode:on. Baru terasa pentingnya memahami obat-obatan kalo di klinik. Namun karena mentok kebentur Antibiotik yang kami punya cuma yang itu-itu aja, jadi kami hanya bisa beri injeksi analgesik dengan antibiotik seadanya. Itulah hal sering terjadi di desa.


Si kakek, meskipun datang dengan keluhan sakit saat kencing, saya lebih tertarik dengan benjolan di pipi kanannya. Besar sekali, setelah anamnesis dan memeriksa suhu, nyeri, konsistensi benjolan tersebut sampai pada sebuah diagnosis sok-sok'an bahwa bejolan tersebut sebuah tumor jinak parotis. Lalu kami menyarankan kakek tersebut untuk kelak memperhatikan dan membawanya ke rumah sakit terdekat dengan kartu BPJS. Namun bapaknya tersenyum dan cuman bisa nrimo (menerima) katanya. Itulah yang sering terjadi di desa.

Banyak hal yang belum saya pelajari dari dunia ini...
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ketempelan Jin, Sayangnya bukan 'Salam Tempel'


Tak lama kemudian, datang seorang sepasang suami istri yang awalnya ingin memeriksakan kesehatan sang istri. Mereka datang dengan seorang anak perempuan berusia kira-kira 8 tahun. Anehnya anak tersebut dari tingkah lakunya sangat tegas dan lugas tidak menunjukkan perkembangan seusianya. Pada saat Mama sedang memeriksa pasien tersebut, si anak menyuruh Mama untuk melihat timbangannya selagi dia berdiri di atas timbangan. Kemudian anak tersebut meminta untuk pergi ke toilet, secara ditelusuri ternyata anak tersebut ketempelan jin.



Ketempelan Jin? Apa bedanya dengan kesurupan?

Kalo ada hal semacam ini saya juga sulit untuk menggolongkan ini masuk wilayah ilmu apa...
Jin adalah mahluk ghaib (tidak terlihat kasat mata) yang sebenarnya kedudukannya lebih rendah dari manusia dan ada yang beriman sebagian suka menyesatkan manusia. Bedanya bangsa manusia tidak bisa melihat jin tapi bangsa jin bisa melihat manusia dan jin dengan izin Allah SWT. Sebagian jin dan syaitan juga bisa mencuri kabar sedikit dari langit sehingga apa yang dibisikkan oleh jin kadangkala sesuai dengan kejadian di masa datang. Semua itu atas izin dari Allah SWT pada dasarnya untuk menguji iman manusia. Namun tak sedikit manusia yang meminta atau bahkan menuhankan segolongan dari bangsa jin ini, Naudzubillah ...
Loh kok malah ngelantur gini, wkwkw... maaf ya..

Jadi intinya kalo ketempelan jin, identik jin tersebut merasa memiliki tubuh orang tersebut dalam waktu yang lama. Tanpa sadar bahwa sebenarnya tempat jin bukan disana. Jadi ada semacam shift jin tersebut menggerakan jasad orang tersebut sedangkan orang tersebut kadang-kadang sadar tapi ingin menghentikannya. Ini bukan penyakit sejenis chorea atau Huntington yang saya pelajari tapi ini sebuah kajian khusus yang sangat halus...

Supaya gampang adegan yang kalian baca sebentar lagi mirip dengan film Insidious. Udah pernah nonton kan...? ^_^


Jadi...

Keluhan anak tersebut:
1. Berbicara panjang lebar padahal dirinya berkata tidak ingin bicara
2. Berbicara dengan lugas, cepat dan tidak menghargai orang tua tapi menunjukkan sikap sama persis seperti orang tua.
3. Senang diperlakukan seperti orang tua. Mengerti apa yang dipikirkan orang, seperti emosi, pemikiran, dsb.


Setelah mendengar bahwa ada kabar anak tersebut ketempelan jin, maka saatnya bapak saya beraksi. Sebelumnya kedua orangtuanya mengakui bahwa anak tersebut ketempelan jin. Setelah dibawa ke beberapa kiai, mereka tidak sanggup mengeluarkan. Tingkah laku anak tersebut pun aneh di rumah, tidak pernah tidur dan selalu berseliweran.


Diduga ada yang tidak beres dengan kedua orangtuanya. Tak sngaja sang ibu mengiyakan namun sang suami berusaha menutupi. Bahkan rela anaknya diambil demi kebaikan bla..bla..bla... Tak jarang kasus seperti ini bersinggungan dengan pesugihan yang ujung-ujungnya jin tersebut meminta suatu imbalan. Padahal kita hanya boleh meminta pada Allah SWT kan??

Saya melihat dari belakang anak tersebut. Sikapnya seperti orang tua, bahkan kakek nenek. Gaya berbicaranya pun sama. Jadi dari hasil pengamatan saya, ketika bapak ingin mengeluarkan jin tersebut dari tubuh si anak, jin tersebut menolak dan mengeluarkan kekuatan penolakan yang sangat besar katanya. Sehingga tidak diteruskan. Saya melihat dari tatapan anak itu, sepertinya bukan anak itu secara asli. Melainkan sosok yang beda di dalam tubuh anak itu. Ketika proses exorcist berlangsung anak tersebut melihatku dengan tatapan yang tidak wajar. Sempat diulangi dan sempat anak tersebut menjerit kesakitan. Anak itu tidak berani menatap mata Bapak. Setelah itu anak tersebut meminta untuk pulang dengan cara yang agak memaksa. Tidak kuat dan tidak betah katanya, pengen tidur, padahal dia tidak suka tidur. Sebelum berpisah, anak tersebut dan bapak bersalaman sekali lagi sambil mengucapkan "Assalamualaikum wr. wb." kemudian anak tersebut menjawab dengan salam lengkap cepat dan beberapa bacaan ayat-ayat yang tak lazim diucapkan oleh anak seumurannya.

Ooo... dalam hati saya berpikir,,.. ini jin muslim kah...?
Kemudian dia menghampiri saya dan menjabat tangan saya,

Sewaktu dia menjabat saya merasakan dari tangannya getaran yang mengalir,... seperti listrik
dan tatapan matanya sekali lagi, bukan sewajarnya...sambil berbicara cepat dan mulai tidak wajar...

Ada hal gak bisa kita jelaskan tapi hanya bisa kita rasakan...
Wa'alaikumsalam wr. wb. Read More..

26 Juli 2014

Sepetik hasil kuliah kedokteran semester 4

Hello world! Assalamualaikum, It's Ramadhan yeah! It's holiday yeah!
Akhirnya anakmu ini bisa gendut di rumah :3 Mamah...!

Karena rumah saya di desa jadi bisa dipastikan koneksi internet dan segala yang namanya gadget disini kurang diperhatikan. Komputer di rumah cuman bisa buat ms word dan paint. Namun kini terselamatkan dengan adanya netbook. Handphone.., ya cukup... monochrome tahan banting.  Televisi cuman bisa liat 3 channel stasiun TV.

Ada sebuah ritual yang aku lakukan ketika liburan, yaitu membuka history download di netbook selama satu semester. Kali ini aku mencoba menilai keberhasilan belajar semester 4 dari history. Bukan dari IP, karena aku gak tertarik... soalnya selalu aja hasilnya pas-pasan hahaha.... Udah sekolah 4 semester bisa dilihat keseriusannya dari download-an apa aja..., kalian bisa mencobanya sendiri sekedar untuk evaluasi diri. Sejauh mana sih gairah kalian di dunia persilatan ini?

Mau tau...?




Sorry rahasia pabrik beroo... :P, yang jelas ada game, tutorial dan lagu-lagu gitu...
Posting gak jelas...
Sekalian nyambung sama idul fitri, mau ngucapin Mohon Maaf Lahir dan Batin buat semuanya...
Have a quality time.. Read More..